JOIN NOW

Selasa, 16 September 2014

Stop Memberi Bedak Pada Bayi




baby_powder
Partikel halus pada bedak bayi bisa terhirup oleh Si Kecil (foto: The Guardian)
TabloidNova.com –  Meski beberapa ahli kesehatan sudah mengatakan bahwa bedak bayi bisa berisiko menyebabkan masalah pernapasan pada bayi, tapi masih saja ada ibu-ibu yang memakaikannya ke anak mereka.
American Academy  of Pediatrics  merekomendasikan untuk tidak menggunakan bedak bayi karena berisiko menyebabkan masalah pernapasan.


Bedak bayi dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan kerusakan paru-paru serius jika bayi menghirup partikel dari bedak tersebut. Dan, partikel-partikel kecil itu akan semakin sulit dikendalikan jika sudah bercampur dengan udara luar (setelah digunakan).
Tak jarang, banyak bayi yang paru-parunya teriritasi. Bayi yang paling berisiko adalah bayi prematur, bayi dengan penyakit jantung bawaan, dan bayi yang memiliki RSV atau penyakit pernapasan. Oleh karena itu, agar lebih aman, hindari penggunaan bedak ke tubuh bayi Anda.
Ada yang mengatakan, bedak digunakan untuk mengatasi iritasi kulit bayi. Sebenarnya hal itu bisa berlaku kebalikannya. Jika tubuh bayi tidak dibersihkan dengan benar, bubuk bedak akan menumpuk (terutama di bagian lipatan kulit) dan kemudian menyebabkan iritasi.  


Kalaupun Anda memutuskan untuk tetap memakaikannya ke anak, perhatikan cara penggunaannya berikut ini:
- Gunakan sedikit saja.
- Tuang bedak ke tangan Anda terlebih dahulu (jangan langsung ke badan anak) di mana posisi tangan jauh dari anak, usap bedak menggunakan kedua tangan, lalu oleskan ke tubuh anak.
- Setelah digunakan, jauhkan kemasan/wadah bedak dari jangkauan anak.
Sebenarnya hal ini (partikel yang mudah terhirup) tidak hanya berlaku untuk bedak bayi, tapi juga pada bubuk lainnya, seperti bubuk dari tepung jagung, tepung beras, dan lainnya.

Sumber:  http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Anak/Stop-Memberi-Bedak-Pada-Bayi

Tanpa Gula-Garam, Makanan Pendamping ASI untuk Bayi Nikmat Berkat Rempah


image
Makanan pendamping ASI yang dibuat sendiri adalah pilihan sehat untuk bayi (foto: IST)

 "Adalah mitos jika dikatakan bayi hanya boleh mengkonsumsi makanan hambar. Hal itu tidak didasarkan pada penelitian," kata Susanna Block, dokter anak dan pemilik situs World Baby Foods.
ASI saja, kata Susanna, aroma dan rasanya bisa menyesuaikan makanan yang dikonsumsi ibu. Jadi, apa salahnya jika makanan bayi juga diberi bumbu? "Itu sama saja kemunduran jika kita mengikuti mitos di atas."
Karenanya, tidak ada salahnya jika Anda menambahkan sejumput jinten pada rebusan ayam atau peterseli pada kentang tumbuk bayi Anda. Mungkin bayi akan terkejut saat pertama kali merasakannya, tapi itu tidak masalah.
Berdampak Negatif?
Ada ibu-ibu yang percaya, rempah dan bumbu hanya akan berdampak negatif pada bayi. Tapi itupun tak terbukti.
Dampak negatif seperti kulit iritasi atau diare, biasanya bukan diakibatkan karena rempahnya. Melainkan, kuantias bumbu/rempah yang diberikan terlalu banyak. Jadi perhatikan pemberian bumbu yang berlebihan pada MPASI mengingat pencernaan bayi belum sempurna.
Garam dan Gula?
Dalam "booklet pemberian makan” Unicef, MPASI boleh ditambahkan sedikit garam beryodium. Dan pada buku “MPASI rumahan bagi bayi” dari WHO, dikatakan boleh menambahkan sedikit gula.
Untuk penambahan dua rasa ini, terserah Anda. Jika setuju, jangan menambahkan gula/garam terlalu banyak. Alasannya sama seperti pada rempah tadi, pencernaan bayi belum sempurna.
Atau, Anda bisa mengganti gula/garam dengan keju, margarin, mentega atau ASIP agar lebih aman dan nyaman bagi perut bayi.

Sumber: tabloidnova.com

Minggu, 14 September 2014

Omelette Kentang Campur

 


 

Bahan :
- 3 butir telur, kocok lepas
- 1 buah kentang rebus, potong kotak kecil
- setengah buah wortel rebus, potong kotak kecil
- 1 batang daun bawang, iris halus
- garam dan merica bubuk secukupnya
Cara Membuat :
- Camput rata semua bahan
- Panaskan wajan anti lengket, beri sedikit mentega/minyak dan masukkan adonan, gunakan api kecil dan beri tutup wajan, jika permukaan sudah matang segera balik dan lanjutkan hingga sisi satunya dadar matang.
- Matikan api, angkat, potong-potong dan sajikan.

Sumber: http://kumpulanmasakanbalita.blogspot.com/

Memantau Kesehatan Bayi Dari Warna Dan Bentuk Tinjanya





Tubuh bayi memiliki indikator yang luar biasa. Jika bayi merasa tidak enak badan atau terjadi sesuatu dalam tubuhnya, orang tua dapat menerkanya dari tinja yang dikeluarkan oleh bayi. Lalu, apa kata warna tinja bayi tentang kesehatan tubuhnya? Dilansir oleh similac.com, berikut arti warna tinja bayi dan bagaimana menanganinya:
  • Hijau Kehitaman

    Warna tinja ini adalah warna tinja pertama bayi yang baru lahir atau disebut meconium. Jangan khawatir, warna hitam muncul karena mengandung bilirubin dan kolostrum ASI sebagai laxative yang membantu bayi buang air besar selama 3 hari pertama.
  • Kekuningan

    Warna tinja kekuningan biasanya dialami bayi yang hanya minum ASI. Bunda tak perlu khawatir karena hal ini normal hingga bayi bisa mengkonsumsi makanan padat.
  • Kecoklatan

    Jika tinja bayi berwarna kecoklatan dan teksturnya (maaf) kental, biasanya dikarenakan konsumsi susu formula atau konsumsi suplemen ASI oleh ibu. Hal ini normal selama tinja tidak terlalu keras atau lembek.
  • Hijau Kecokelatan

    Tipe tinja ini umumnya dikeluarkan bayi yang mulai mengkonsumsi makanan padat. Warna tinja ini normal kok, selama bayi tidak mengalami gejala lain pada kesehatannya yang mengkhawatirkan.
  • Keras Dan Berwarna Coklat

    Jika Anda mendapati tinja bayi berwarna coklat dan teksturnya keras, bisa jadi bayi mengalami konstipasi atau sembelit. Ini pertanda bayi kurang mendapatkan asupan cairan dalam tubuh. Berikan cairan lebih banyak, tambahkan sayur dan buah atau kontak dokter anak untuk penanganan yang lebih baik.
  • Cair Dan Berwarna Coklat

    Tanda bayi mengalami diare adalah dengan tinja yang cair berwarna coklat. Diare pada bayi bisa mengakibatkan dehidrasi dan pertanda adanya infeksi pada tubuhnya. Jika ini terjadi selama 2 hari atau lebih, sebaiknya segera bawa ke dokter jika diikuti gejala demam atau muntah-muntah.
Sekalipun bayi belum dapat bicara, Anda bisa memantau kondisi tubuhnya dari warna dan konsistensi tinjanya. Semoga informasi ini dapat membantu Anda.

Sumber: www.vemale.com

 
Dunia Bunda dan Balita © 2011
Design by Premiumbloggertemplates.com | reDeveloped by EKA
Powered by Blogger